Makassar, 22 Desember 2025 — Dosen Ilmu Komunikasi STIE-LPI Makassar, Nurhaedah. S.E., S.Ak., M.I.Kom dan Aktivis Perempuan, Ainun Amalya menghadiri dan menjadi pembicara dalam Seminar Keperempuanan yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi LPI (STIE-LPI) Makassar, Senin (22/12/2025).
Seminar yang mengangkat temaPentingnya Pembangunan dan Pemberdayaan Keperempuanan Dalam Kehidupan ini menjadi bagian dari komitmen mahasiswa STIE-LPI Makassar dalam membangun ruang diskusi yang inklusif dan progresif, khususnya bagi kaum muda dan perempuan.

Hari Perempuan Internasional (HPI) menjadi momen penting untuk merayakan pencapaian perempuan, mengakui tantangan yang dihadapi, dan memperjuangkan hak-hak perempuan di seluruh dunia. Di Indonesia, HPI bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga menjadi platform bagi berbagai inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan peran serta dan pemberdayaan perempuan dalam membangun masyarakat yang adil dan damai. Perayaan ini menjadi momentum untuk merefleksikan pencapaian perempuan serta memperkuat tekad untuk terus melangkah maju dalam mengatasi ketidaksetaraan gender.
Data menunjukkan potensi besar perempuan Indonesia dalam berbagai bidang. BPS mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) perempuan untuk pendidikan tinggi mencapai 54,23% pada tahun 2020, menunjukkan peningkatan jumlah perempuan yang menempuh pendidikan tinggi. Hal ini menandakan bahwa semakin banyak perempuan yang mendapatkan akses ke pendidikan tinggi, semakin besar potensi untuk meningkatkan kontribusi mereka dalam berbagai sektor pembangunan.
Pemberdayaan perempuan adalah kunci untuk mencapai pembangunan yang adil dan damai. Dengan meningkatkan peran perempuan dalam berbagai bidang, Indonesia dapat mencapai potensi sepenuhnya sebagai bangsa yang maju dan sejahtera. Inisiatif-inisiatif yang berfokus pada pemberdayaan perempuan tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi perempuan itu sendiri, tetapi juga bagi seluruh masyarakat dengan menciptakan lingkungan yang lebih adil dan inklusif.
Namun, tantangan masih ada. Salah satunya adalah kesenjangan gender dalam pendapatan. Data BPS menunjukkan rata-rata pendapatan perempuan hanya 78,5% dari pendapatan laki-laki pada tahun 2020. Ketimpangan ini menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan memberdayakan perempuan secara ekonomi agar mereka dapat mencapai potensi penuh mereka tanpa diskriminasi gender.Pemberdayaan perempuan merupakan langkah strategis untuk membangun kehidupan yang lebih berkeadilan dan berkeadaban. Masalah utama yang dihadapi kaum perempuan selama ini, baik di Indonesia maupun di dunia, adalah ketidakadilan gender. Dalam masyarakat yang didominasi sistem patriarki, perempuan cenderung diposisikan sebagai warga kelas dua dengan peran periferal. Dan karena ketidakberdayaannya, kaum perempuan sering menjadi korban diskriminasi dan eksploitasi.
Fakta menunjukkan bahwa ketidakadilan gender masih banyak terjadi di berbagai tempat, baik di negara maju maupun berkembang, di berbagai aspek kehidupan.
